26th February 2008
Yes you have heard it right buddy!
SRK and Hrithik are going to sizzle on the dance floor for an item number in Rakesh Roshans’s latest movie KRAZZY 4. Rakesh Roshan’s KRAZZY 4 stars Irrfan Khan, Arshad Warsi, Suresh Menon ,Rajpal Yadav along with Comedy Queen Juhi Chawla and is directed by his close associate Jaideep Sen. Since KRAZZY 4 is an out and out comedy, Rakesh Roshan invades the new territory of comedy with his latest venture.
The main USP of the movie is gonna be the item numbers by sizzling combo SRK and Hrithik Roshan. SRK’s item number has been released few days back and is already making its way to the top of the charts.
Both the superstars are shooting for the same audio track with sligh variation in the lyrics,instead of shooting for two separate songs.SRK’s item number in the movie will be an integral part of the story, and Hrithik stars in the promotional video where he introduces the four comedy men to the audience.
The music of the movie is composed by the ever melodious Rajesh Roshan. As usual the K-factor also makes it presence felt in KRAZZY 4 as it does with every other movie which comes out of Rakesh Roshans closet. With the deadly combo of SRK and Hrithik to sizzle on the big screen this April, the audience are surely gonna say “Krazy kiya re!!!”
posted in Bollywood News, Bollywood Gossip, Shahrukh Khan, Hrithik Roshan, Bollywood Masala, Bollywood Celebrity, Bollywood Box Office,
Add a comment Februari 6, 2009
Setelah tertunda-tunda karena alasan yang tidak jelas, akhirnya aku sukses mengantar istri nonton Perempuan Berkalung Sorban. Sebuah tontonan “wajib” bagi kaum wanita dan tontonan yang membuat laki-laki jadi merasa risih.
Kuatnya peran laki-laki dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, dalam film itu dibuat secara ekstrem, sehingga seolah-olah wanita itu memang tempatnya di bawah ketiak laki-laki.
Aku sih belum pernah masuk pesantren, sehingga tidak tahu, apakah adegan dalam film itu benar-benar menggambarkan pesantren yang ada di Jombang atau hanya rekayasa film saja, sehingga menimbulkan kesan dominannya laki-laki atas wanita.
Nisa, sang gadis yang doyan naik kuda sambil berkalung sorban digambarkan sebagai gadis pemberontak yang ingin duduk sama tinggi dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh naik kuda, kenapa wanita tidak?
Hanya seorang laki-laki di lingkungan pesantren yang bisa memahami hati Nisa, dialah Lik Khudori yang digambarkan sebagai kerabat jauh Nisa. Selisih umur yang jauh dan kekerabatan inilah yang membuat Lik Khudori sulit mengungkapkan cintanya pada Nisa.
Apalagi ayah Nisa, seorang Kiai pemilik pesantren, sangat mendambakan Nisa menikah dengan lelaki anak Kiai dan bukan lelaki biasa-biasa saja.
Hal ini pulalah yang makin membuat Lik Khudori tidak bisa bertindak apa-apa. Dia tahu, cintanya pasti disambut Nisa, tapi tidak akan pernah disambut oleh ayah Nisa.
Sikap diam inilah yang makin membuat Nisa seperti layang-layang putus dan akhirnya harus menurut perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, seorang anak Kiai dari pesantren lain.
Janji ayah Nisa untuk mengijinkan Nisa sekolah setelah menikah ternyata hanya menjadi angin lalu saja. Nisa menjadi budak suaminya dan tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah.
Cerita makin seru ketika suami Nisa ternyata menikah lagi dan makin menelantarkan Nisa. Rasanya sudah habis kesabaran Nisa, tetapi nasib belum berpihak padanya. Sampai akhirnya Nisa bertemu lagi dengan Lik Khudori yang sudah lulus dari Kairo.
Api cinta yang memang tidak pernah padam itu kembali membara, bahkan demikian membaranya sampai Nisa rela dizinahi oleh Lik Khudori. Tentu Lik Khudori tak mau melakukan perbuatan itu.
Sayang pertemuan dua insan di tempat yang sunyi itu membuat orang jadi berpikiran buruk. Apalagi hukum orang berzina adalah dilempari dengan batu, maka dijalankanlah hukum itu atas mereka berdua.
Kisah semakin seru dan semakin menegangkan, sehingga harus nonton sendiri di bioskop. Gak seru kalau cuma mbaca di blog ini.
Bagi yang pernah melihat film AAC, maka film ini dibuat lebih berwarna dan membumi, sehingga lebih enak ditonton, meskipun sebenarnya kata “sorban” dalam film ini lebih terkesan sebagai “tempelan” saja.
Mungkin seperti buku Andrea Hirata yang berjudul Maryamah Karpov, yang tidak bicara banyak di dalam bukunya. Kalau suka laskar pelangi, maka pasti suka juga dengan film ini.
Lucunya, atau ironisnya, film yang bertemakan Islam ini diputar pas jam nanggung, maksudnya masuk sebelum asar dan selesai sesudah asar, atau masuk sebelum maghrib dan selesai setelah maghrib.
Jadi gimana caranya mereka menjalankan sholat asar atau maghrib sambil nonton film?
Foto-foto yang dimuat dalam iklan di studio 21 juga menampilkan Revalina tanpa jilbab. Hmm …. jauh beda dengan penampilan Reva sebagai Nisa di film itu.
Aku lebih suka Reva pakai jilbab dibanding nggak pakai jilbab.
Add a comment Februari 2, 2009
Cinta Laura Kiehl, remaja kelahiran Quakenbruck di Jerman memang banyak yang nyindir bahwa bahasa Indonesia nya rada aneh. Namanya juga besar di lingkungan yang jarang pake bahasa Indonesia. Lahir pada tanggal 17 Agustus 1993 dan memulai kariernya di dunia infotainment Indonesia sebagai finalis Top Model 2006.Setelah menjadi finalis, Cinta Laura mendapatkan tawaran main sinetron CINDERELLA (Apakah Cinta Hanyalah Mimpi?) produksi MD Entertainment. Tapi tawaran sinetron tersebut tidak langsung menuju lokasi shooting. Melainkan, Cinta harus melatih bahasa Indonesia nya melalui kursus 4 bulan. Ditambah lagi, karena usianya yang masih belia, dia harus mengasah keahlian aktingnya dengan kursus akting.
Sinetron yang diperani Cinta Laura ini booming di masyarakat dan nama Cinta Laura semakin terkenal. Kehebatan aktingnya juga mendukung sehingga pada tahun 2007 Cinta Laura mendapatkan penghargaan SCTV Awards dengan kategori Aktris Ngetop pada tahun 2007.
Dengan tinggi 170 cm dan berat 44 menjadikan dia artis remaja yang diidolakan. Sebagai artis, dia juga masih mengisihkan waktunya untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak kurang mampu. Wah keren tuh.. semoga aja kegiatan sosialnya bisa berlangsung terus.
Sampai saat ini belum ada gosip-gosip miring yang nganter dikaitkan dengan Cinta Laura. Yang ada hanya ejekan-ejekan mengenai gaya dan pronasiasi bahasa Indonesianya. Sampai-sampai ada ring tone dengan lirik: “”Mana Ujyan, Ngga Ada Ojyek, Becyek, Becjek.” hhehehe… Tapi namanya di Indo, yang salah dan lucu dijadikan tren. Akhirnya banyak anak muda atau artis indonesia lainnya yang kadang meniru gaya pronansiasinya Cinta Laura.
Kalau mau liat videonya Cinta Laura, bisa klik disini. Video Cinta Laura.
Popularity: 86% [?]
Tags: artis sinetron, cinta laura
Add a comment Februari 2, 2009
28 Februari 2008Posted by zulfaisalputera in Apresiasi Sastra, Didaktika.
Tags: Didaktika
trackback
Kelas, sebagai ruang belajar, bukan lagi satu-satunya tempat untuk mengadakan kegiatan tatap muka dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Kelas sebagai sebuah tempat belajar mempunyai keterbatasan yang amat sangat dalam mengembangkan model pembelajaran. Selain terbatas pada ukuran ruang dan situasi belajar yang tercipta, ruang kelas juga telah membuat guru dan siswa jadi kurang mengeksplorasi diri. Padahal belajar adalah sebuah proses dan eksplorasi adalah ciri sebuah proses.
Guru yang kreatif adalah guru yang selalu memperbaharui dirinya dalam melakukan aktivitas mengajarnya. Guru sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu azas yang normatif, bahwa belajar mesti di dalam kelas. Guru harus pandai memanfaatkan semaksimal mungkin segala sarana dan prasarana belajar yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Selain ruang kelas, masih ada laboratorium, ruang media, mushola, dan halaman yang bisa digunakan. Tidak hanya papan tulis, tetapi juga tape, VDC/DVD Player, OHP atau pun LCD, dan media lainnya yang bisa dimanfaatkan.
Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang bisa divariasikan dalam proses pembelajarannya. Materi pelajaran ini bukan hanya apik dilakukan di kelas, tapi juga seru jika dibelajarkan di luar ruang kelas. Diskusi kelompok, bermain peran, pidato atau pun pembacaan karya sastra, seperti puisi, cerpen, atau drama akan lebih hidup jika dilakukan di alam terbuka. Tidak ada alasan bagi guru untuk tidak mencoba melakukan pembelajaran di luar kelas. Seminimal apa pun fasilitas sekolah, pastilah mempunyai halaman atau sedikit ruang terbuka di sekitar sekolah. Mengapa lahan tersebut tidak kita manfaatkan untuk memberi variasi dalam tampilan pembelajaran kita.
Dua minggu ini aku melakukan kegiatan pembelajaran di luar ruang kelas. Aku menggunakan salah satu sudut halaman sekolahku. Di tempat tersebut kebetulan ada bangku taman, teras kelas, dan tepi-tepi pot kembang besar yang bisa dijadikan tempat bagi siswa untuk duduk. Di sekitarnya ada dua pohon besar yang memberi kesejukkan dari sengatan matahari pagi. Tempat ini kuanggap cocok untuk membelajarkan salah satu materi yang ada, yaitu pembacaan puisi.
Ada tiga buah Kompetensi Dasar (KD) dalam Silabus Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XII jurusan IPA/IPS yang berkaitan dengan pembelajaran puisi. Tiga KD tersebut adalah:
6.1 Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
6.2 Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
7.1 Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai
Jika diamati, ketiga KD yang berkaitan dengan puisi itu mempunyai satu benang merah, yaitu pembacaan puisi. Yang membedakan adalah obyek puisi yang dibaca. KD 6.1. obyeknya adalah puisi lama, KD 6.2 obyeknya puisi baru, dan KD 7.1 adalah puisi karya (siswa) sendiri. Adapun yang menjadi penilaian ketiga KD itu adalah bagaimana lafal. Intonasi, dan ekspresi siswa yang tepat saat membaca puisi tersebut.

Yang menarik adalah KD 7.1. Pada KD ini siswa dan guru ditantang pada dua hal. Kepada siswa ditantang untuk mencipta puisi dan membaca sendiri puisi yang diciptakannya. Kepada guru ditantang untuk memotivasi siswa agar mampu mencipta puisi dan mampu membaca puisi yang diciptakannya. Kedua tantangan ini akan dapat diatasi apabila guru mempunyai kreativitas dalam membelajarkannya dan mampu bersinergi dengan siswa.
Untuk kegiatan mencipta puisi, aku mengawalinya dengan memulai berdialog dengan siswa tentang pengalamannya dalam penciptaan puisi. Hanya satu dua siswa yang mengaku suka menulis puisi dan punya beberapa puisi yang diarsipkan. Kebanyakan siswa mengaku hanya sekali sekali menulis puisi dan itu pun karena dapat tugas dari guru di SMP maupun SMA. Pertanyaan serempak dari mereka adalah bagaimana agar dapat menulis puisi dan bagaimana menulis puisi yang baik.
Seperti biasa, aku tidak banyak berteori. Aku hanya mengatakan bahwa menulis puisi seperti menulis biasa. Hanya perlu sedikit selektif dalam memilih kata-kata agar mampu mewakili apa yang ada dalam pikiran kita. Pemilihan kata juga diperlukan untuk menyesuaikan rimanya. Sementara ide bisa apa saja dan datang dari mana saja. Selanjutnya, aku langsung meminta siswa untuk mulai mencipta puisi.
Dalam pembelajaran bagaimana mencipta puisi aku mencoba mengadopsi apa yang pernah ditularkan Bapak Taufik Ismail (TI) dalam kegiatan Menulis, Membaca, dan Apresiasi Sastra (MMAS). Ada banyak metode diajarkan TI agar siswa mudah mencipta puisi. Salah satunya aku pungut, yaitu metode sumbang kata. Metode ini sangat mudah diterapkan karena melibatkan partisipasi seluruh siswa dan dapat dilakukan dengan hasil maksimal dalam satu kali pertemuan.
Metode sumbang kata dimulai dengan meminta masing-masing siswa untuk menuliskan satu buah kata, apa saja, asal jangan jorok dan SARA, pada sepotong kertas. Kertas-kertas yang sudah berisikan sebuah kata itu kemudian dikumpulkan. Salah seorang siswa diminta untuk menuliskan kata-kata tersebut di papan tulis. Jika ada kata yang sama maka hanya dituliskan satu kali. Selanjutnya, terkumpulah sejumlah kata yang beragam.
Setelah tersedia sejumlah kata, kepada siswa diminta untuk mencipta puisi berdasarkan kata-kata tersebut. Ketentuannya adalah siswa boleh menggunakan minimal separu dari jumlah kata yang tersedia. Kemudian, siswa boleh memberi tambahan berupa imbuhan, kata penghubung, atau pun kata-kata lain agar dapat membuat larik yang sesuai keinginannya. Jumlah larik dan bait tak dibatasi. Puisi yang sudah selesai dicipta harus diberi judul dan kata-kata yang dipungut dari daftar kata-kata di papan tulis harus diberi garis bawah untuk membedakan dengan kata-kata yang ditambahkan sendiri.
Pada awalnya, siswa agak berkerut dahi untuk memikirkan kata apa yang harus dipilih dan bagaimana membuatnya menjadi larik yang padu. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah merenung sebentar dan sambil melihat kerja temannya di kiri kanan, siswa langsung lancar menuliskan apa yang dia pikirkan. Menakjubkan, siswa-siswa ternyata mampu mencipta puisi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh mereka.
Beberapa puisi yang diciptakan oleh siswa aku bacakan di depan mereka sebagai contoh dan motivasi. Hal ini aku lakukan terkait dengan kegiatan lanjutannya. Kepada siswa aku sampaikan bahwa kegiatan berikutnya adalah mereka harus membacakan puisi yang telah mereka ciptakan. Aku memberikan pilihan bahwa mereka boleh membacakan puisi ciptaannya dari hasil sumbang kata tersebut, tapi boleh juga puisi ciptaan mereka yang lain, dengan catatan bukan dari hasil menjiplak.
Untuk memberikan contoh kepada siswa bagaimana membaca puisi yang baik, aku pun menggunakan diriku sendiri sebagai model. Sambil menjelaskan perihal penghayatan, lafal, intonasi, dan gerak mimik, aku membaca satu dua puisi dengan gaya berdasarkan penafsiranku sendiri. Aku juga memutarkan video pembacaan puisi yang aku rekam dari beberapa lomba baca puisi. Siswa sangat antusias memperhatikan dan tentu akan lebih mampu menyerap dan menerapkannya.
Pertemuan berikutnya adalah puncak kegiatan pembelajaran, yaitu pembacaan puisi karya siswa sendiri. Para siswa sudah tahu bahwa pembacaan puisi akan berlangsung di luar kelas, tepatnya di salah satu sudut halaman sekolah. Saat masih di kelas XI tahun lalu, mereka sudah pernah menyaksikan kakak kelas mereka melakukan itu. Jadi, tidak ada siswa yang mempermasalahkan lagi kecuali sekadar perasaan gugup karena harus membaca puisi di tempat terbuka.
Kegiatan pembacaan puisi di halaman ini aku mulai dengan memberikan pengantar awal agar siswa mampu membaca puisi dengan lancar tanpa merasa terganggu oleh pandangan siswa-siswa kelas lain yang mungkin hilir mudik di sekitar mereka atau sekadar melihat dari jauh. Kemudia aku mengumpulkan salinan puisi-puisi yang bakal mereka baca. Selain untuk bahan bacaanku ketika siswa sedang membacakan puisinya, lembaran kertas puisi karya siswa yang dikumpulkan itu juga kujadikan semacam nomor giliran siswa tampil dengan cara mencabutnya secara acak.
Kemampuan siswa tampil membaca puisi di ruang terbuka ini ternyata menimbulkan banyak kejutan. Ada siswa yang sehari-harinya pendiam ternyata luar biasa saat membaca puisi. Ada pula siswa yang biasanya riang gembira dan tak pernah terlihat murung ternyata mampu membaca puisi sambil menangis. Belum lagi siswa yang agak berlebih gaya karena tahu disaksikan banyak orang dan harus terdiam agak lama untuk konsentrasi sambil mengusir kegugupan. Ada juga siswa yang tampil dibantu beberapa siswa lainnya yang berperan sebagai latar untuk menyanyikan lagu dengan berguman.
Suasana pembacaan puisi di alam terbuka ini juga sangat kondusif. Angin yang mengendus pelan-pelan sangat menambah suasana hikmat pembacaan. Apalagi kadang disertai guguran daun kering yang menimpa rambut siswa yang sedang membaca. Suasana demikian tentu juga memberi pengalaman tersendiri bagi siswa bagaimana tampil membaca puisi di alam terbuka, disaksikan pohon, angin, matahari, dan puluhan pasang mata teman-temannya satu sekolah. Bukankah pengalaman ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi bagi siswa.
Tak ada kendala yang berarti dari kegiatan pembacaan puisi karya sendiri di halaman yang asri ini. Tepuk tangan dan riuh teriakan teman-temannya yang menonton justru membuat hidup suasana. Jika pun ada, paling masalah hujan saja. Untung saja saat melaksanakan pembelajaran itu tak ada setetes pun air hujan yang membasahi. Kegiatan pembacaan puisi oleh seluruh siswa yang berjumlah antara 35 dan 36 orang ini pun dapat diselesaikan dengan satu kali pertemuan saja.
Ada pun unsur yang dinilai adalah sebanyak lima hal, yaitu penghayatan, lafal, intonasi, gerak dan mimik, serta kreativitas. Rentang nilai setiap unsur adalah antara terendah 1 dan tertinggi 5. Jika hasilnya maksimal, maka siswa akan mendapat skor 25. Skor tersebut kemudian dikonversi dengan nilai antara 1,0 sampai dengan 10,0. Dengan nilai ketuntasan minimal 7,0, seluruh siswa dapat melampui batas ketuntasan tersebut. Aku memberi nilai minimal ketuntasan itu kepada siswa yang membaca puisi dengan kemampuan standar.
Mencoba memindahkan tempat kegiatan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dari ruang kelas ke ruang terbuka di halaman sekolah yang asri memang bukan pekerjaan mudah jika guru tidak mau repot. Diperlukan kesadaran bahwa siswa akan lebih banyak mendapatkan pengalaman pembelajaran di ruang terbuka karena bisa langsung berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Jadi, jika guru punya kemauan untuk memberikan yang terbaik, mengapa tidak mencoba.
Banjarmasin, 24 Pebruari 2008
Add a comment Februari 2, 2009
Berita & Informasi
28-Feb-2006, Internet
Seorang bayi perempuan usia 13 bulan yang dijuluki dengan ‘Putri Duyung Kecil’ dalam kondisi sehat, Jumat, setelah selang dua hari menjalani operasi pemisahan kakinya yang menyatu yang dikatakan oleh tim dokter sebagai kasus kedua di dunia.
Milagros Cerron yang nama kecilnya dalam bahasa Spanyol berarti “keajaiban” menatap penuh ingin tahu ke arah para wartawan dan sejumlah banyak orang yang berdatangan ingin melihat dirinya di rumah sakit Solidarity, Jumat, setelah menjalani operasi pemisahan tungkai dan kakinya yang menyatu mulai dari paha hingga ke mata kaki.
Jari-jari kaki Milagros yang mungil muncul dari kakinya yang dibalut perban setelah ia menjalani operasi pemisahan tungkai dan kaki yang berisiko amat tinggi.
Para dokter yang merawat Milagros mengatakan bayi perempuan tersebut dalam kondisi sehat dan stabil serta dalam waktu sangat dekat akan dapat meninggalkan unit perawatan gawat .
“Ia bayi yang manis, sehat dan penuh semangat serta amat kuat,” kata Dr Luis Rubio seorang dokter bedah yang ikut menangani kasus Milagros sejak ia berusia 2 hari.
Bayi perempuan mungil itu terlahir dengan kelainan yang amat jarang terjadi, mencapai usia yang disebut “Syndroma Putri duyung” atau sirenomelia yang umumnya menyebabkan kematian dalam waktu beberapa jam setelah kelahiran. Para dokter berharap bayi itu sudah dapat berjalan pada hari ulang tahunnya yang kedua.
Seorang gadis Amerika berusia 16 tahun yang juga menjalani operasi pemisahan tungkai dan kaki pada usia beberapa bulan merasa yakin bahwa dirinya adalah satu-satunya di dunia pasien kelainan yang amat jarang itu yang mampu bertahan hidup.
“Pada saat 50 jam berselang setelah operasi pemisahan tungkai dan kaki yang menyatu berakhir, yang memiliki tingkat kegagalan yang amat tinggi memperlihatkan hasil yang menggembirakan dengan risiko berakibat fatal yang amat kecil,” kata dr Rubio.
“Masih ada risiko akan kemungkinan terjadi infeksi atau jahitan operasi yang lepas , namun kita semua bersyukur kepada Tuhan bahwa tak ada hal-hal serupa itu terjadi sejauh ini,” kata Rubio menambahkan .
Sebelum menjalani tindakan bedah yang berlangsung empat jam kaki Milagros bergerak secara terpisah namun dipersatukan oleh semacam jaringan yang berbentuk kantung dari pangkal paha hingga ke tumitnya.
Kakinya berbentuk `V` yang membuat menyerupai ekor ikan duyung.
Kini aliran darah sudah dapat mencapai ujung jari kakinya dan kedua kakinya telah memperlihatkan gerak refleks yang baik.
Para dokter membuat lubang kecil untuk mengamati kondisi jahitan akibat operasi pemisahan yang menurut pemeriksaan rutin dokter dikatakan dalam kondisi baik .
Setelah 15 hari kemudian akan mulai memberikan terapi dengan menekuk kakinya untuk mulai mengembangkan otot-otot kaki yang selama ini tidak pernah berfungsi.
Milagros selanjutnya akan menjalani tindakan bedah tahap lanjut setelah lima hingga enam bulan untuk merekonstruksi wilayah panggul dan pangkal paha . Ia akan menjalani tindakan bedah berulang kali hingga usianya mencapai usia remaja.
Kedua orang tua Milagros tampak mendampingi putri mereka melewati masa-masa kritis sejak sebelum di operasi hingga paska operasi.
“Semua berjalan lancar dan kondisi Milagros semakin hari semakin pulih,” kata ayah bayi perempuan Ricardo Cerron dengan wajah cerah .
Walikota lima yang menjadi bapak baptis Milagros telah menyatakan semua biaya perawatan Milagros akan ditanggung kota Lima.
Add a comment Februari 2, 2009
SBY Akan Hadiri Perayaan Imlek Nasional
Tribun Batam/Iman Suryanto
Imlek – Bebrpa masyarakat keturunan melakukan persembayang pada saat pergantian tahun baru China di Klenteng Tua Pek Khong Bio Windsor,Penuin,Batam, Rabu malam(6/2) , Persembayangan ditujukan supaya penghasilan, penghidupan dan rejeki di tahun yang akan datang dapat menghasilkan untung yang lebih baik lagi Tribun Batam/Iman Suryanto
/
Sabtu, 31 Januari 2009 | 15:16 WIB
JAKARTA, SABTU — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir dalam Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2560 yang akan diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (1/2). Perayaan ini diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).
Perayaan mengangkat tema “Tuhan Melihat seperti Rakyat Melihat, Tuhan Mendengar seperti Rakyat Mendengar”. Tema ini dipilih karena berkaitan dengan fakta bahwa tahun 2009 adalah tahun Pemilu. “Tema ini mau menunjukkan kepada pemimpin-pemimpin bahwa rakyat itu harus dilihat atau didengar, Tuhan juga melihat dan mendengar seperti rakyat,” ujar salah satu panitia yang menangani protokoler, Jenny Tampi, kepada Kompas.com, Sabtu (31/1) dalam proses geladi resik di JCC. “Jangan cuma janji-janji doang,” lanjut Jenny.
Add a comment Januari 31, 2009
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 komentar Januari 24, 2009